Yuk simak nasihat Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas rahimahullah yang sangat bermanfaat ini, bahasannya meliputi:
Ilmu Dituntut untuk Diamalkan: Beliau mengutip penjelasan Ibnu Qutaibah ad-Dinawari (abad ke-3 H) dan Imam adz-Dzahabi (abad ke-8 H) tentang perbedaan penuntut ilmu zaman dahulu dan zaman sekarang. Dahulu, ilmu dipelajari untuk diamalkan, dipahami, dan mendatangkan manfaat. Sementara di masa-masa setelahnya, banyak orang mengumpulkan ilmu sekadar untuk dikenal, berdebat, atau berbangga diri.
Keutamaan Mengamalkan Ilmu: Mengutip penjelasan Imam Ibnu al-Jauzi (kitab Shaid al-Khathir), ilmu adalah pokok/prinsip terbesar (al-aslul akbar). Orang yang paling miskin/rugi di akhirat adalah mereka yang menghabiskan umurnya untuk menuntut ilmu tetapi tidak mengamalkannya.
Wajib Berpegang Pada Dalil: Pokok tertinggi dari ilmu adalah wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salaf). Seorang muslim wajib mengikuti dalil, bukan sekadar ikut-ikutan (taqlid) atau mengedepankan pendapat figur/tokoh. Hal ini sesuai dengan pesan para imam mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali).
Syarat Utama Dakwah Adalah Ilmu (Basirah): Berdasarkan Surah Yusuf ayat 108, dakwah ke jalan Allah wajib didasari atas ilmu dan keyakinan yang jelas (ala basiratin).
Bahaya Berdakwah Tanpa Ilmu: Seseorang tidak boleh masuk ke medan dakwah tanpa bekal ilmu syar’i yang memadai. Mengajar atau berdakwah tanpa ilmu dapat membawa kerusakan dan menyesatkan masyarakat.
Anjuran Menuntut Ilmu Bagi yang Baru Hijrah/Bertaubat: Bagi siapa saja yang baru bertaubat atau hijrah, kewajiban utamanya adalah fokus belajar (thulabul ‘ilmi) dengan sabar dan tekun, bukan terburu-buru tampil berdakwah atau membuat kelompok tersendiri.
