Yuk simak kajian ustadz Abdullah Sya’roni mengenai Menjadi Manusia Terbaik Disisi Allah Ta’ala yang sangat bermanfaat ini, bahasannya meliputi:
1. Pendahuluan & Muqaddimah
- Ceramah dibuka dengan muqaddimah dan khutbatul حاج (pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, salawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, serta nasihat ketakwaan).
- Mengingatkan fitrah manusia yang selalu ingin menjadi yang terbaik, berprestasi, dan menjadi juara dalam berbagai hal.
- Koreksi Orientasi Muslim: Tolok ukur kebaikan seorang muslim tidak dinilai dari standar duniawi/manusia (seperti fisik, ketampanan/kecantikan, kedudukan, jabatan, atau kekayaan), melainkan dari penilaian di mata Allah Subhanahu wata’ala.
2. Tafsir Surah Al-Mulk Ayat 2: Ujian Kualitas Amal
- Berdasarkan Surah Al-Mulk ayat 2 (“alladzi khalaqal mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala”), Allah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa yang paling baik amalnya (ahsanu ‘amala).
- Para ulama Salaf memberikan beberapa tafsiran mengenai makna ahsanu ‘amala:
- Paling Banyak Mengingat Kematian & Bersiap Diri: Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa orang yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk akhirat.
- Paling Zuhud Terhadap Dunia (Tafsiran Hasan Al-Basri): Mengedepankan akhirat di atas dunia serta menjadikan fasilitas dunia (termasuk kekayaan) sebagai sarana meraih ridha Allah.
- Paling Ikhlas & Paling Sesuai Sunnah (Tafsiran Fudhail bin ‘Iyadh): Amal tidak dinilai dari kuantitas (banyaknya), melainkan kualitasnya. Banyak beramal tanpa keikhlasan atau tidak sesuai petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan diterima.
3. Potret Kualitas Amal vs Kuantitas Amal (Kisah-Kisah Teladan)
- Kisah Sa’ad bin Mu’adz RA: Meskipun masa keislamannya sangat singkat (sekitar 6–7 tahun), kualitas iman dan amalnya membuat ‘Arsy Allah bergetar saat beliau wafat.
- Kisah Wanita Juhainah: Seorang wanita yang berzina namun bertaubat dengan sungguh-sungguh hingga rela disanksi rajam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa kualitas taubatnya begitu agung, hingga seandainya dibagikan kepada 70 penduduk Madinah, akan mencukupi mereka semua.
- Hadits Bithaqah (Kartu Tauhid): Seorang hamba yang memiliki 99 gulungan catatan dosa terangkat dan diampuni berkat satu kartu Lailahaillallah yang didasari kualitas tauhid yang sangat tinggi di dalam hatinya.
- Pelajaran: Jangan pernah berputus asa bagi yang baru berhijrah di usia lanjut, karena yang menjadi tolok ukur utama adalah prioritas kualitas amal.
4. Jalan Utama Menjadi Manusia Terbaik: Mempelajari & Mengajarkan Al-Qur’an
- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Khairukum man ta’allamal Qur’ana wa ‘allamah” (Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya).
- Keagungan Al-Qur’an: Segala hal yang bersentuhan dengan Al-Qur’an menjadi yang paling mulia (Malaikat Jibril sebagai pemimpin malaikat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai sebaik-baik Nabi, Ummat Islam sebagai Khairu Ummah, Bulan Ramadan sebagai bulan terbaik, dan Lailatul Qadar sebagai malam termulia).
5. Lima Golongan Manusia Berdasarkan Hubungannya dengan Al-Qur’an
- Golongan Pertama (Paling Berbahagia): Orang yang bersungut-sungguh membaca, mempelajari tafsir/kandungannya, serta mengamalkan Al-Qur’an.
- Golongan Kedua (Terancam & Berpaling): Orang yang mengabaikan dan tidak mau membaca Al-Qur’an. Diancam dengan kehidupan yang sempit di dunia, dikumpulkan dalam keadaan buta di akhirat (QS. Thaha: 124–126), dan disertai setan sebagai qarin (QS. Az-Zukhruf: 36).
- Golongan Ketiga (Lalai/Malas): Orang yang bisa membaca Al-Qur’an tetapi malas membacanya sehingga terluput dari pahala besar dan berisiko kehilangan hafalan.
- Golongan Keempat (Membaca Tanpa Tadabbur): Orang yang rajin membaca/menghafal tetapi tidak mau mentadabburi maknanya. (Imam Ibnul Qayyim menyatakan membaca satu ayat dengan tadabbur lebih baik daripada mengkhatamkan tanpa tadabbur).
- Golongan Kelima (Mencari Dunia Semata): Orang yang membaca Al-Qur’an hanya demi kepentingan/keuntungan duniawi, berlebih-lebihan dalam irama demi acara tertentu, atau melanggar aturan agama.
6. Penutup & Kesimpulan Metode Pengajaran Al-Qur’an
Ceramah ditutup dengan ajakan agar kita selalu mengusahakan agar tergolong dalam kelompok pertama yang senantiasa mendekatkan diri dan berinteraksi secara utuh dengan Al-Qur’an.
Tahapan ideal dalam pendidikan Al-Qur’an (menurut Syekh bin Baz): Talqin (mendengarkan/meniru) -> Tashih/Tahsin (memperbaiki bacaan) -> Tafsir (memahami makna) -> Tahfiz (menghafal).
